Bacaan Alkitab: 2 Tesalonika 1:1-12

Hari ini kita memperingati peristiwa reformasi gereja (ecclesia reformata). Peristiwa di mana Martin Luther mengkritik berbagai penyimpangan yang terjadi di gerejanya. Kritiknya yang tertuang dalam 95 Tesis dipakukan di pintu Gereja Kastil Wittenberg pada 31 Oktober 1517. Berita ini pun menyebar luas dan menjadi gerakan reformasi yang kemudian melahirkan Gereja Protestan.

Ada pola serupa dalam berbagai gerakan reformasi: (1) reformasi didasari harapan pada pembaruan menuju kehidupan lebih baik; (2) namun tidak jarang, harapan tersebut menimbulkan konflik bahkan pertumpahan darah karena reformasi mengandaikan perubahan drastis. Keduanya terjadi dalam reformasi gereja. Gerakan Martin Luther dkk didasari kerinduan memurnikan (purificanda) gereja dari ajaran-ajaran yang tidak Alkitabiah, namun konflik dan pertumpahan darah menjadi konsekuensi yang tak terhindarkan.

505 tahun telah berlalu pasca reformasi gereja. Mari kita refleksi diri. Sudahkah pembaruan gereja menuju ke arah yang lebih baik, sebagaimana harapan para reformator, terwujud? Atau kita justru mewarisi konflik reformasi yang tampak dalam relasi dengan orang lain di gereja, komunitas, dan masyarakat?

Tampaknya kita perlu belajar dari pengalaman hidup jemaat Tesalonika sebagaimana disampaikan dalam bacaan hari ini. Mereka hidup dalam iman, harapan dan kasih yang nyata (ay. 3-4): iman di tengah penindasan sehingga berbuah ketabahan hidup; kekuatan kasih menghangatkan relasi antar jemaat; dan pengharapan tekun dalam menanti kedatangan Tuhan Yesus. Paulus pun bersyukur atas itu dan terus mendoakan jemaat Tesalonika agar hidup dalam kekuatan iman, pengharapan, dan kasih (ay. 6-10).

Refleksi historis reformasi gereja mengingatkan bahwa membarui diri dapat dilakukan melalui hal sederhana sekalipun —minimal memperbaiki keadaan yang ada di sekitar kita. Tindakan Luther dkk menjadi sebuah gerakan reformasi besar karena mereka selalu mengandalkan Tuhan, berkomitmen, dan berintegritas dalam mewujudkan pembaruan. Maka kita pun seharusnya setia mewujudkan pembaruan dengan penuh komitmen dan integritas, dimulai dengan hidup dalam penuh pengharapan, iman, dan kasih yang nyata di gereja, komunitas, dan masyarakat sekitar kita (J.Co/30102022)